Ketika Dion memasuki usia 4 tahun, kami mulai hunting mencari sekolah yang cocok untuk Dion. Sekolah kecil, dengan jumlah murid yang tidak banyak, tidak terlalu jauh dari rumah dan juga tidak mahal. Maklum, saat itu sedang masa krismon.
Akhirnya atas saran dari orang tua dan kakak, kami mendapat informasi tentang play group kecil di daerah Bintaro Jaya. Mereka menerima Dion dengan senang hati dan mau menerima keadaannya. Kami juga lega, karena ternyata mereka juga pernah menangani anak-anak seperti Dion.
Dion pergi ke sekolah hanya seminggu 3 kali. Awal masuk sekolah, Dion belum mau duduk di dalam kelas. Dia lebih senang jalan-jalan, keluar masuk kelas, melihat taman, atau main sendiri. Tapi semua itu didiamkan saja oleh gurunya. Pelan-pelan gurunya memberikan pengertian, sampai akhirnya Dion mau duduk di dalam kelas. Hal ini merupakan kemajuan luar biasa bagi Dion. Apalagi kemudian Dion sudah mau mengerjakan tugas-tugas dari sekolah seperti mewarnai, menulis dan lain-lain. Hasilnya memang kurang memuaskan, tapi untuk anak seperti Dion, itu sudah merupakan suatu kemajuan. Dengan teman-temannya, dia masih cuek. Kalau gurunya mengajak semua anak untuk bernyanyi sambil tepuk tangan, Dion juga masih cuek. Tidak mau tepuk tangan. Belakangan saya baru sadar, Dion ternyata tidak bisa tepuk tangan!