Bulan Agustus tahun 1997, kami kembali ke Jakarta. Kondisi Dion masih seperti dulu. Sering tantrum. Ibu saya yang melihat ada sesuatu yang tidak biasa pada diri Dion, menyarankan untuk mencari tempat terapi. Wah, cari dimana ya? Saya buta sama sekali tempat terapi seperti itu. Akhirnya ada kabar dari kakak saya, bahwa salah satu teman gereja kami dulu yang buka tempat terapi. Saya berhasil kontak dengan dia dan menceritakan kondisi yang dialami Dion. Melalui dia, saya disarankan untuk segera datang ke tempat terapinya, yaitu BRT (Bimbingan Remedial Terpadu).
Untuk tahap awal, Dion harus menjalani observasi selama 3 bulan. Selama observasi, sudah terlihat perkembangan yang cukup baik. Bicaranya sudah mulai bagus. Sudah bisa menjawab pertanyaan dan tidak mengulang lagi pertanyaannya. Temper tantrumnya juga lumayan berkurang. Hanya memang di akhir masa observasi, terapisnya menyarankan untuk membawa Dion ke psikiater, yaitu Dr. Melly Budhiman, karena dia melihat ada gejala autis dalam diri Dion. Aduh, apalagi tuh Autis? Tahun 1997, autis belum ”nge-trend” seperti sekarang, jadi informasi mengenai autis hampir tidak ada.