Tahun 1995, kami sekeluarga pindah ke Cleveland, Ohio, USA karena bapaknya mendapat beasiswa dari kantornya untuk mendapat gelar MBA. Kembali suatu anugerah besar kami rasakan. Bukankah setiap orang ingin pergi ke Amerika? Dan kami bisa pergi kesana gratis, malah dibayari kantor.
Kami tinggal di apartemen kecil dengan 2 kamar tidur. Hari-hari Dion dilalui lebih banyak dengan ibunya, karena bapaknya sibuk dengan kuliahnya. Seringkali kami berdua ditinggal di dalam apartemen kami sehari penuh. Kalau ada keperluan, baru keluar seperti belanja, bermain di play ground atau children museum. Dion paling senang pergi ke children museum, karena di sana dia bisa melihat kereta api mainan kesukaannya, selain main-main air, kesukaannya yang lain sejak dulu. Acara jalan-jalan ini lebih sering kami lakukan berdua saja, tanpa bapaknya. Mungkin hal ini juga yang membuat Dion sampai sekarang masih suka bermanja-manja dengan ibunya.
Perkembangan bicaranya, menurut kami pada saat itu, baik-baik saja. Dion bisa mengucapkan 2 kata untuk meminta sesuatu. Hanya memang kalau sudah meminta sesuatu dan tidak diberikan atau omongannya tidak kami mengerti, dia bisa tantrum. Temper tantrum-nya dengan menangis menjerit-jerit. Tidak membahayakan memang. Tapi kalau dilakukan di tempat umum? Pastinya memalukan dan membuat kami panik.
Kalau dipanggil, Dion juga cenderung tidak bereaksi. Kesannya cuek, pura-pura tidak dengar. Atau kalau ditanya, misalnya ”Namanya siapa?”, dia bukannya menjawab namanya, tapi malah mengulang pertanyaannya. Beberapa tahun kemudian, kami baru sadar bahwa itulah yang disebut echolalia.
Kebiasaan makannya juga masih sulit. Saya memang tidak menyuruh dia untuk makan. Prinsip saya waktu itu, kalau anaknya lapar, pasti dia akan minta makan. Daripada kita paksa anak untuk makan, malah membuat semua frustrasi. Akhirnya Dion memang lebih senang minum susu daripada makan makanan padat. Makanan padatnyapun bukan nasi. Dia lebih senang makan roti pakai coklat/muisjes, waffel atau mashed potatoes. Nasi jarang sekali dia sentuh.
Dion paling suka main kereta api dari kardus. Kardus kecil bekas alumunium foil dia geser-geser maju mundur, bolak balik. Tanpa suara. Hanya sekali-sekali dia mengucapkan, ”’tuh kereta api tuh!”. Selain itu juga dia suka melihat sesuatu yang berputar, seperti kipas angin. Terutama fan besar yang ada di ruang garasi apartemen kami. Kalau sudah melihat fan itu, susah diajak masuk. Sepedanya juga jarang dinaiki. Lebih sering dibalik, kemudian rodanya diputar-putar pakai tangan. Belum lagi hobinya yang lain. Mengocok-ocok botol parfum, kemudian dia bisa asyik melihat bubble/busa yang timbul karena kocokannya. Diputar-putar bolak-balik. Semuanya itu masih kami anggap wajar. Maklum, tidak ada pembandingnya. Karena memang tidak ada anak-anak seumur Dion yang bisa kami jadikan pembanding. Di kemudian hari baru kami sadar bahwa itu semua merupakan gejala-gejala autis.
Pada waktu Dion berumur 3 tahun, kami memasukkannya ke toddler class. Kelas untuk anak-anak umur 2-3 tahun. Di kelas itu, Dion sekolah 2 kali seminggu dengan didampingi ibunya, karena memang ketentuannya harus seperti. Dalam 1 kelas hanya ada maksimal 6 anak dengan 2 guru. Seminggu sekali juga ada jadwal khusus pertemuan one-on-one dengan gurunya. Semacam konsultasi. Berdasarkan hasil observasi gurunya, Dion mengalami 1-2 tahun keterlambatan perkembangan mental dan emosi dibandingkan dengan anak normal. Dan tidak menyebut autis sama sekali. Untuk melatihnya kami hanya berusaha untuk mengajarkan saran-saran dari gurunya. Misalnya, untuk melatih motorik dan emosinya, lebih banyak main puzzle. Karena kalau Dion tidak bisa menyelesaikan puzzle-nya, dia bisa tantrum. Sungguh merepotkan…